Berita  

Dua Menu MBG SPPG Sukorejo 2 Blora Positif Bacillus cereus

Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Bacillus cereus pada dua menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Temuan ini berkaitan dengan dugaan keracunan makanan yang dialami penerima manfaat pada Senin (7/9/2026).

Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora mencatat 334 orang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dari SPPG tersebut. Sebanyak 198 orang menjalani rawat jalan, 10 orang mendapat perawatan inap, sementara 126 orang mengalami gejala tetapi tidak memeriksakan diri.

Temuan pada makanan dan air

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Nur Betsia Bertawati, mengatakan pemeriksaan dilakukan setelah tim surveilans bersama tim terkait mendatangi lokasi SPPG. Sampel kemudian dianalisis di dua fasilitas, yakni Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Blora dan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Hasil pemeriksaan Labkesda menunjukkan air sumur mengandung bakteri Escherichia coli atau E. coli dengan kadar melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Namun, sampel air minum yang turut diperiksa dinyatakan normal dan tidak mengandung bakteri tersebut.

“Hasil pemeriksaan di Labkesda menunjukkan air sumur mengandung bakteri E. coli melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Sementara sampel air minum yang diperiksa dinyatakan normal dan tidak ditemukan bakteri tersebut,” ujar Betsia, Selasa (23/9/2026).

Sementara itu, Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menemukan Bacillus cereus pada dua jenis makanan, yaitu kuah sop dan ayam woku kemangi. Menurut Betsia, bakteri tersebut dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala yang serupa dengan keluhan para penerima manfaat, seperti muntah, diare, dan mual.

“Di dua makanan tersebut ditemukan bakteri Bacillus cereus yang bisa menyebabkan keracunan makanan dengan gejala yang hampir sama dengan yang dialami anak-anak, seperti muntah, diare, dan mual,” katanya.

Adapun sampel nasi putih, tempe, apel, rebusan brokoli, dan jagung manis dinyatakan normal dalam pemeriksaan.

Gejala dialami penerima manfaat dari sejumlah sekolah

Kasus tersebut tidak hanya dilaporkan dari satu satuan pendidikan. Penerima manfaat dari beberapa sekolah, antara lain SMA Tunjungan, SDIT Permata Mulia, dan SMP Permata Banjari, turut mengalami gejala.

Betsia menjelaskan, keberadaan bakteri pada makanan dapat dipengaruhi sejumlah tahapan dalam pengelolaan pangan. Faktor tersebut mencakup pengelolaan makanan yang tidak sempurna, penyimpanan bahan yang tidak sesuai standar, proses pengolahan, pengepakan, hingga pendistribusian.

“Pengelolaan, penyimpanan, pengepakan, kemudian pendistribusian itu sangat berpengaruh,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan laboratorium telah disampaikan kepada Satgas Kabupaten dan pihak SPPG untuk menjadi bahan tindak lanjut. Dinkesda Kabupaten Blora menyatakan hasil tersebut menjadi salah satu dasar penanganan serta evaluasi pelaksanaan program MBG di SPPG Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan.

Source link