Sejarawan Thomas Sutasman merilis buku terbarunya yang berjudul ‘Stasiun Kereta Api di Cilacap’, mengulik sejarah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Sebagai seorang guru di sekolah swasta, ini adalah kali kedelapan Thomas merilis karya tulis pribadinya. Buku ini berisi lebih dari 100 halaman yang membahas 17 stasiun yang berada di jalur Banjar-Kroya dan jalur Kroya-Tegal di Cilacap.
Dalam sebuah wawancara, Thomas menjelaskan bahwa tujuan dari buku ini adalah untuk mengenalkan masyarakat pada peran stasiun-stasiun kereta api yang menjadi bagian penting dari sejarah dan perekonomian lokal. Ia merasa bahwa stasiun kereta api telah membawa perubahan signifikan pada perdagangan di Cilacap, yang sebelumnya lebih banyak menggunakan jalur sungai dan darat.
Selain memberikan pemahaman sejarah kepada masyarakat, Thomas juga menjadikan keberadaan stasiun-stasiun tersebut sebagai potensi wisata bersejarah bagi Cilacap. Dalam bukunya, ia menyoroti keunikan dan sejarah masing-masing stasiun, termasuk keterlibatan stasiun dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Thomas juga mencatat keunikan tertentu dari stasiun-stasiun di Cilacap, seperti stasiun Cilacap yang pernah dibom pada tahun 1942.
Buku ini juga menyoroti stasiun-stasiun kecil yang tidak begitu terkenal di Cilacap, seperti stasiun Randegan, Sikampuh, Lebeng, Cipari, Peluwung, dan Kawunganten. Thomas menggunakan berbagai sumber referensi untuk membuat buku ini, serta mencari dokumentasi foto yang dibutuhkan. Hanya sekitar 100 eksemplar buku yang dicetak, dan Thomas selalu menyumbangkan satu eksemplar untuk perpustakaan daerah.
Bagi yang tertarik, buku ‘Stasiun Kereta Api di Cilacap’ karya Thomas Sutasman dijual seharga Rp65 ribu. Thomas juga sering membagikan bukunya kepada siswa yang berprestasi sebagai bentuk apresiasi. Dengan meluncurkan buku ini, Thomas berharap agar stasiun-stasiun bersejarah di Cilacap tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.












