Qualcomm Blak-blakan soal Krisis Memori, Ini Penyebabnya

Kelangkaan chip memori yang terjadi secara global bukan disebabkan oleh terbatasnya produksi chipset, melainkan oleh pasokan memori yang banyak dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pusat data. Qualcomm menyebut kondisi tersebut mulai menekan industri elektronik konsumen, termasuk produsen smartphone.

Executive Vice President dan Chief Marketing Officer Qualcomm Incorporated, Don McGuire, menjelaskan persoalan itu dalam Snapdragon Partners & Media Event Indonesia 2026, Kamis (1/10). Menurut dia, memori kini menjadi salah satu komponen yang paling terbatas karena sebagian besar pasokannya digunakan untuk kebutuhan data center.

Qualcomm Pastikan Pasokan Snapdragon Aman

Don menegaskan Qualcomm tidak memproduksi memori. Komponen tersebut digunakan berdampingan dengan prosesor Snapdragon, sehingga ketersediaannya bergantung pada produsen memori lain. Ketika pasokan menyusut, harga komponen itu pun meningkat.

“Sebenarnya, (fenomena kelangkaan memori) ini bukan soal chipset. Jadi, memori saat ini menjadi komponen yang sangat terbatas dan langka karena sebagian besar memori jelas digunakan untuk kebutuhan data center,” kata Don.

Ia menyebut situasi tersebut menjadi tantangan bagi bisnis elektronik konsumen dalam memperoleh memori. Dampaknya turut berkontribusi terhadap persoalan ekonomi dan mendorong kenaikan harga smartphone.

Meski menghadapi tekanan pada rantai pasok komponen, Qualcomm menyatakan tidak mengalami kelangkaan chip. Perusahaan mengklaim tetap dapat memasok prosesor Snapdragon sesuai kebutuhan pelanggan. Kendala yang dihadapi para pelanggan Qualcomm berada pada kemampuan mereka memperoleh memori dari pemasok lain.

“Kami tidak memiliki masalah kelangkaan chip. Jadi, kami bisa memasok pelanggan kami dengan chip Snapdragon sebanyak yang mereka butuhkan. Namun, pertanyaan berikutnya adalah apakah mereka bisa mendapatkan pasokan memori dari pihak lain, bukan dari kami?” ujar Don.

Upaya Efisiensi Memori di Smartphone

Untuk mencegah krisis tersebut berubah menjadi persoalan jangka panjang, Qualcomm tengah mengembangkan inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan memori. Salah satu pendekatan yang disiapkan adalah membawa teknologi High-Performance Computing (HPC) ke perangkat smartphone.

Menurut Don, teknologi HPC di ponsel diharapkan membantu mengurangi tekanan terhadap kebutuhan memori. Ia memperkirakan teknologi tersebut mulai disematkan pada sejumlah perangkat pada awal tahun depan.

“Kami mencoba berinovasi dengan memori agar ini tidak menjadi masalah jangka panjang, melainkan hanya masalah jangka pendek bagi pelanggan kami. Jadi, kami bisa membantu menyeimbangkan persoalan ini,” tuturnya.

Don berharap kelangkaan memori mulai berkurang pada akhir 2027 atau awal 2028. Namun, ia belum dapat memastikan apakah kenaikan harga smartphone akan berlanjut akibat kondisi tersebut.

Permintaan Perangkat Masih Tinggi

Di tengah persoalan pasokan, permintaan terhadap perangkat elektronik disebut masih tinggi. Don mengaitkannya dengan peralihan industri menuju era agentic AI. Qualcomm pun terus bekerja sama dengan para pelanggan agar perangkat tetap dapat tersedia bagi konsumen.

“Saya tidak bisa memprediksi apakah harga akan terus meningkat. Kami berharap tidak, tetapi saya tidak bisa memprediksinya. Yang bisa saya katakan adalah kami terus melihat demand (perangkat) yang tinggi karena adanya peralihan menuju agentic AI,” jelasnya.

Ia menambahkan, dampak dari peningkatan efisiensi memori dan penerapan HPC akan terlihat seiring perkembangan teknologi perangkat serta perubahan kondisi pasar. Qualcomm juga berupaya membantu pelanggan menghadirkan sebanyak mungkin perangkat ke tangan konsumen selama pasokan memori masih menjadi tantangan.

Source link