Komet C/2026 A1 (MAPS) menjadi sorotan utama dalam dunia astronomi pada bulan April 2026 yang dinanti-nantikan. Penemuan komet ini dilakukan oleh kelompok astronom amatir Prancis pada tanggal 13 Januari 2026 menggunakan teleskop berdiameter 28 sentimeter di San Pedro de Atacama, Chile. Nama MAPS sendiri diambil dari akronim nama belakang para penemu komet tersebut, Maury, Attard, Parrott, dan Signoret.
Dari awal penemuan, kecerahan luar biasa komet ini menjadi daya tarik utama bagi para ilmuwan. Mengeluarkan cahaya yang cerah pada magnitudo 18 bahkan saat berjarak dua kali lipat jarak Bumi-Matahari, MAPS termasuk dalam keluarga Komet Kreutz Sungrazer, yang sering melintas sangat dekat dengan Matahari. Disebutkan bahwa para ilmuwan menduga komet-komet Kreutz adalah pecahan dari sebuah komet raksasa yang terbelah berabad-abad yang lalu.
Sebuah dugaan dari astronom NASA/JPL Zdenek Sekanina mengatakan bahwa MAPS memiliki hubungan dengan komet yang pernah terlihat dengan mata telanjang pada 363 Masehi dari wilayah yang sekarang dikenal sebagai Antakya, Turki. Diperkirakan bahwa inti komet MAPS memiliki diameter sekitar 400 meter, lebih kecil dari perkiraan awal sebesar 2,4 kilometer. Meskipun ukurannya lebih kecil, komet ini berakhir tragis saat mencapai titik terdekat dengan Matahari pada 4 April 2026.
Titik perihelion terjadi di sekitar jam 14.18 UTC (21.18 WIB) dimana MAPS hanya berjarak sekitar 160.000 kilometer dari permukaan Matahari. Jarak yang sangat dekat menyebabkan komet terpapar pada panas ekstrem dan tarikan gravitasi yang kuat, yang akhirnya mengakibatkan kehancurannya. Meskipun begitu, sisa orbitnya pada 5-6 April masih memiliki posisi terdekat dengan Bumi pada jarak lebih dari 143 juta kilometer. Selain itu, komet ini sempat menunjukkan ekor kecil dan koma berwarna hijau sebelum hancur, yang disebabkan oleh emisi karbon diatomik (C2) yang umumnya dijumpai pada komet.






