Wahdi Azmi: Ekosistem dan Ekonomi Harus Seimbang

Jika berbicara soal konservasi di Indonesia, sering kali perhatian utama tertuju pada kerusakan hutan atau punahnya satwa liar. Salah satu narasi yang dominan adalah tentang bagaimana habitat hewan semakin sempit, konflik antara manusia dan satwa pun menjadi berita rutin. Namun, perspektif seperti itu cenderung melupakan satu unsur yang vital: manusia yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Wahdi Azmi, seorang dokter hewan dan konservatoris berpengalaman yang bertahun-tahun menjalani upaya meredam konflik antara manusia dan gajah di Sumatera, memahami dengan jelas bahwa pelibatan masyarakat adalah kunci. Dalam sebuah diskusi di kanal Leaders Talk Tourism yang mengulas kebijakan konservasi terbaru, Wahdi menekankan bahwa upaya perlindungan satwa dan lingkungan cenderung gagal jika tidak memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, jika warga lokal tak mendapat keuntungan nyata dari program konservasi, maka gerakan ini akan selalu terpinggirkan dan sulit dipertahankan.

Wahdi berkaca dari dinamika yang ia temui selama menangani kasus konflik manusia-gajah: penyebab utamanya jarang murni perilaku hewan, lebih sering justru perubahan lanskap akibat tekanan ekonomi dan sosial yang tidak tertangani dengan baik. Setiap kali hutan beralih fungsi jadi kebun atau pemukiman, satwa liar dan manusia makin sering bersinggungan. Tekanan hidup manusia turut memicu konflik, bukan hanya tindakan hewan yang mencari makan di sekitar permukiman.

Strategi konservasi yang selama ini dipraktikkan lebih banyak mengandalkan pendekatan proteksi melalui regulasi dan pembatasan kawasan. Terlihat kuat di dokumen kebijakan, tapi dalam realita, kebijakan tersebut sering memutus hubungan antara masyarakat dengan alam sekitar. Banyak warga sekitar kawasan konservasi akhirnya kehilangan akses pada lahan, ekonomi, bahkan menghadapi kerugian akibat larangan dan pembatasan yang tak mempertimbangkan kebutuhan mereka. Konservasi akhirnya dipersepsikan sebagai beban tambahan, bukan sebagai nilai bersama yang perlu diperjuangkan.

Wahdi menekankan perlunya integrasi, bukan sekadar membatasi. Masyarakat harus dianggap sebagai bagian dari ekosistem, bukan lawan bagi konservasi. Konservasi sejati membutuhkan sinergi antara perlindungan lingkungan, peningkatan ekonomi masyarakat lokal, dan edukasi yang membumi. Jika hanya satu elemen yang berjalan dan dua lainnya tertinggal, pelestarian akan sulit bertahan atau hanya kuat selama ada program eksternal yang menopang.

Nilai dari pendekatan tersebut dapat dilihat di luar kasus konflik hewan, misalnya pada wilayah Mega Mendung, Bogor. Di sini, ancaman deforestasi dan alih fungsi lahan tidak hanya berefek pada habitat hutan ataupun sistem air, tetapi langsung berimbas pada kehidupan sosial serta ekonomi lokal. Di kawasan Arista Montana yang dibimbing Yayasan Paseban dan Andy Utama, integrasi pelestarian alam dengan aktivitas manusia dicoba diwujudkan melalui skema yang inovatif.

Petani lokal dilibatkan dalam praktik pertanian organik berbasis komunitas. Mereka tidak hanya sebagai pekerja, melainkan sebagai mitra yang teredukasi dan mendapatkan manfaat nyata dari praktik pertanian ramah lingkungan. Kesehatan ekosistem menjadi fondasi produksi pangan mereka. Pelatihan mengenai teknik pertanian lestari, pengelolaan lingkungan hingga edukasi bagi generasi muda rutin dilakukan, sehingga pengetahuan baru tidak berhenti pada teori saja, tetapi diikuti dengan implementasi yang memberi dampak langsung.

Dengan begitu, menjaga lingkungan berubah menjadi kebutuhan ekonomi, bukan lagi sekadar slogan. Konservasi lalu menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari, bukan kewajiban abstrak yang diberlakukan dari atas.

Yayasan Paseban memainkan peran sentral dengan memperkuat sumber daya manusia. Lewat pelatihan-pelatihan, masyarakat diberdayakan agar mampu menjalankan usaha berkelanjutan dan tetap menjaga keseimbangan ekologi. Mereka diajarkan teknik pertanian organik, pengelolaan sampah, hingga pemahaman pentingnya air bersih yang berasal dari hutan.

Transformasi ini menggeser posisi masyarakat dari objek kebijakan ke subjek utama penggerak konservasi. Perubahan paling besar terjadi saat warga memiliki kontrol dan kepentingan langsung terhadap ekosistem yang mereka kelola.

Jika disandingkan dengan pengalaman Wahdi Azmi di Sumatera, pola yang sama terlihat. Baik dalam konteks konflik manusia-gajah maupun pengembangan pertanian lestari di Mega Mendung, masalah intinya identik: konservasi tidak mungkin berhasil jika terpisah dari keseharian manusia. Integrasi ekonomi dan konservasi adalah satu-satunya jalan keluar dari siklus konflik yang berulang.

Ketika masyarakat diberi ruang untuk berpartisipasi, diberikan pelatihan keterampilan, dan menikmati hasil ekonomi dari pelestarian lingkungan, konservasi berubah menjadi kebutuhan bersama. Pengawasan serta campur tangan dari luar menjadi pelengkap, bukan fondasi utama.

Kegagalan konservasi di Indonesia sering bukan akibat lemahnya konsep, tetapi ketiadaan inisiatif serta kapasitas lokal. Jika warga tidak aktif dilibatkan dan hasil ekonomi mereka tidak membaik, maka perlindungan kawasan hanya akan berjalan sementara. Namun, kebalikannya, pemberdayaan masyarakat menjadikan konservasi tumbuh dari bawah. Program menjadi lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap tantangan yang ada.

Inilah pelajaran penting dari menyandingkan teori, praktik, dan kenyataan di lapangan. Keberhasilan perlindungan alam tak lagi diukur dari jumlah area yang dilingungi, melainkan dari seberapa kuat keterkaitan antara manusia, lingkungan, dan nilai ekonomi yang dibangun.

Untuk itu, Indonesia perlu memperluas model konservasi yang menyatukan pelestarian ekologis dengan pembangunan ekonomi masyarakat. Peran edukasi dan pelibatan lokal jadi fondasi yang tidak bisa ditawar.

Tanpa perubahan paradigma seperti ini, konservasi akan terus menjadi aktivitas defensif yang rentan gagal menghadapi laju pembangunan dan perubahan zaman. Justru dengan integrasi erat antara manusia, ekonomi, dan lingkungan, konservasi dapat menjadi tulang punggung keberlanjutan pembangunan nasional.

Seperti yang sering dikatakan Wahdi, pertanyaan utama seharusnya bukan lagi hanya “bagaimana menjaga hutan dan satwa?”, melainkan juga “apa alasan manusia untuk berkomitmen menjaga alam itu sendiri?” Jawaban atas pertanyaan ini perlu menjadi orientasi utama setiap upaya konservasi ke depan.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi