Kenaikan harga smartphone di berbagai segmen dapat berdampak pada keputusan konsumen di Indonesia. Diperkirakan konsumen akan lebih berhati-hati dalam membeli smartphone baru ketika harga terus naik. Pabrikan HP telah menaikkan harga produk terbaru mereka pada awal tahun 2026 sebagai upaya mengatasi krisis chip global. Esther Sri Astuti dari Indef menyatakan kenaikan harga tidak hanya berpengaruh pada ponsel, tetapi juga laptop. Hal ini bisa membuat konsumen menunda penggantian ponsel baru atau beralih ke opsi yang lebih ekonomis seperti HP bekas.
Jika harga HP terus naik sementara pendapatan turun, masyarakat akan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok daripada kebutuhan tersier seperti membeli smartphone. Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda mencatat perbedaan pola konsumsi antara segmen flagship dan low-end. Pasar flagship diprediksi terdampak kenaikan harga, sementara pasar low-end akan tetap besar di Indonesia, khususnya di daerah luar Jabodetabek.
Ponsel yang dirilis pada tahun 2026 mengalami kenaikan harga di semua segmen, mulai dari entry-level hingga flagship. Misalnya, Xiaomi Redmi Note 15 Series dan Oppo Reno 15 Series mengalami kenaikan harga mulai dari Rp20 ribu hingga Rp700 ribu, sementara Samsung Galaxy S26 Series dan Xiaomi 17 Series mengalami kenaikan harga antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta dibanding generasi sebelumnya. Meskipun demikian, pasar di segmen low-end diperkirakan tetap besar di Indonesia.
Dengan tren kenaikan harga smartphone, konsumen diharapkan untuk lebih cermat dalam memilih pembelian mereka dan mungkin beralih ke opsi yang lebih hemat biaya. Masyarakat diharapkan bisa menyesuaikan dengan kondisi ekonomi yang semakin tidak pasti, serta memprioritaskan kebutuhan yang lebih penting daripada kebutuhan tersier. Sebagai hasil dari perubahan ini, pasar ponsel bekas juga bisa mengalami peningkatan minat dari konsumen yang mencari alternatif yang lebih terjangkau.






