Sebuah studi kontroversial mengungkap bahwa badai Matahari dapat menyebabkan guncangan gempa di Planet Bumi. Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal International Journal of Plasma Environmental Science pada 3 Februari. Perubahan di ionosfer yang terjadi saat badai Matahari mengganggu lapisan atmosfer atas, dengan partikel bermuatan listrik, diyakini dapat memengaruhi zona patahan yang rentan di kerak Bumi.
Para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan ini dapat memengaruhi gaya listrik di dalam kerak Bumi, berdampak pada stabilitas garis patahan tempat gempa bisa terjadi. Jika benar, hubungan ini akan menunjukkan keterkaitan antara cuaca antariksa dan risiko gempa bumi yang belum disadari sebelumnya oleh ilmuwan.
Namun, ada peneliti lain yang memperingatkan bahwa model studi tersebut terlalu sederhana dan mungkin mengabaikan efek geologi nyata. Sebenarnya, Bumi memiliki listrik alami yang dihasilkan dari retakan-retakan pada kerak Bumi. Retakan-retakan ini, dikenal sebagai patahan, merupakan area kunci yang dapat menyebabkan gempa karena menumpuk energi mekanik.
Dalam model yang dibuat oleh para peneliti, kerak Bumi dan ionosfer dianggap sebagai terminal baterai raksasa yang bocor. Mereka menyatakan bahwa partikel bermuatan listrik dari badai Matahari, saat menabrak Bumi, akan memindahkan elektron di ionosfer, menghasilkan lapisan muatan negatif yang dapat memengaruhi stabilitas patahan.
Meskipun temuan model studi ini didukung oleh beberapa gempa bumi terkait aktivitas Matahari, United States Geological Survey (USGS) menegaskan bahwa hubungan antara gempa bumi dan siklus Matahari sulit untuk dibuktikan. Para peneliti berpendapat bahwa studi ini merupakan jalur potensial yang membutuhkan penelitian dan analisis lebih lanjut untuk memverifikasi hasilnya dengan lebih baik.










