Jumlah sesar aktif di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan total saat ini mencapai 401 sesar aktif yang tersebar di seluruh negeri. Menurut Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Masyhur Irsyam, peningkatan ini tidak disebabkan oleh perpecahan bumi, melainkan karena kemajuan data dan penelitian. Dalam sebuah forum di Jakarta, Masyhur menjelaskan bahwa pemutakhiran peta bahaya gempa dilakukan dengan menggunakan lebih dari 100.000 data gempa dari berbagai lembaga, yang telah diperbarui hingga tahun 2024.
Tim yang dipimpin oleh Prof. Danny Hilman Natawidjaja melakukan survei lapangan intensif dan analisis geologi untuk memperbarui pemetaan sesar aktif di Indonesia. Hasil dari pemutakhiran ini menunjukkan lonjakan jumlah sesar aktif dari tahun ke tahun, dengan data terbaru menunjukkan adanya 401 sesar aktif, dari sebelumnya hanya 52 pada tahun 2010. Pulau Jawa dan Sumatra mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah sesar aktif, yang menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu kawasan tektonik paling aktif di dunia.
Penemuan ini memperkuat pentingnya standar konstruksi tahan gempa di Indonesia, seperti SNI 1726, untuk menghadapi potensi bahaya gempa yang semakin meningkat. Dengan adanya pemutakhiran peta sesar aktif ini, diharapkan dapat membantu dalam mempersiapkan diri menghadapi potensi gempa bumi yang mungkin terjadi di masa depan.












