Pemicu Longsor Cilacap dan Cuaca Ekstrem: Penjelasan BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan faktor cuaca yang berperan dalam kejadian longsor di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Hujan intensitas tinggi selama beberapa hari berturut-turut membuat kondisi tanah semakin basah, sehingga lereng rentan terhadap pergerakan dan akhirnya memicu longsor di Kecamatan Majenang pada Kamis (13/11). BMKG mencatat curah hujan yang tinggi pada 10-11 November 2025, di mana hujan ringan masih terjadi dan membuat tanah tetap jenuh air.

Faktor atmosfer yang mendukung terjadinya hujan lebat seperti aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) dan adanya pusaran angin di sekitar wilayah tersebut juga ikut memicu pembentukan awan hujan. Kelembapan udara yang tinggi pun mendukung pembentukan awan hujan dalam jumlah besar. BMKG juga mengusulkan penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengurangi potensi hujan deras yang bisa memicu longsor susulan atau mengganggu evakuasi.

Pemerintah daerah pun perlu menetapkan Status Siaga Darurat Bencana dan mengajukan permohonan kepada BNPB dan BMKG agar operasi OMC dapat berjalan. BMKG terus memberikan informasi cuaca harian secara rinci untuk membantu instansi terkait dalam proses evakuasi. Selain dari longsor, BMKG juga mencatat adanya dua Bibit Siklon Tropis yang bisa menimbulkan cuaca ekstrem pada 15-16 November 2025.

Munculnya kejadian longsor yang disertai dengan cuaca ekstrem memicu BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat, media, dan masyarakat untuk meningkatkan koordinasi serta kesiapsiagaan. Informasi meteorologis yang tepat waktu dan peringatan dini penting untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan memberikan peringatan agar dapat segera bertindak menghadapi situasi yang mungkin terjadi.

Source link