Berita  

10 Jam Anak-anak Taletting Soppeng Terjebak Game Online

Anak-anak di Taletting Soppeng Terjebak dalam Dunia Game Online

Pada tanggal 10 September 2026, sebuah tim dari Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan observasi terhadap sejumlah anak usia 10-15 tahun di Taletting, Kabupaten Soppeng. Hasilnya sungguh mengkhawatirkan, dimana anak-anak tersebut menghabiskan waktu 5 hingga 10 jam sehari untuk bermain game online. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi para peneliti karena mengungkap adanya perilaku siber berisiko di kalangan anak-anak ini.

Perilaku Siber Berisiko di Kalangan Anak-anak

Dalam survei yang dilakukan, tim peneliti menemukan berbagai aktivitas berisiko yang dilakukan oleh anak-anak tersebut dalam bermain game online. Mulai dari peretasan akun, praktik taruhan, hingga penggunaan uang untuk top up game, semuanya terjadi di balik layar tanpa disadari oleh orangtua atau pengawas. Hal ini menunjukkan bahwa game online telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak tersebut, yang dapat berdampak pada perkembangan mereka.

Pendekatan Mind Therapy dalam Penanganan

Untuk mengatasi masalah ini, tim PKM-RSH 2026 UNM menerapkan pendekatan Siri Mind Therapy yang menggabungkan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan nilai budaya Siri na Pacce. Dengan pendekatan ini, anak-anak diajak untuk memahami diri mereka sendiri, hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku, serta nilai-nilai yang seharusnya mereka pegang dalam bermain game online.

Nilai budaya Siri na Pacce juga menjadi pedoman dalam mencerminkan kesadaran diri, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain. Hal ini penting untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa kehidupan di dunia digital memiliki konsekuensi yang sama seperti kehidupan nyata.

Kesadaran Lingkungan dalam Menghadapi Masalah Game Online

Temuan yang didapat dari observasi di Taletting seharusnya menjadi pengingat bagi keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar. Masalah game online tidak semata-mata menjadi tanggung jawab anak-anak, tetapi juga melibatkan pola pengasuhan, lingkungan pertemanan, kontrol sosial, dan nilai-nilai yang diterapkan oleh orang dewasa di sekitar mereka. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan yang lebih intensif agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan benar di era digital ini.

Source link