Fenomena Bediding di Surabaya, Suasana Lebih Sejuk di Malam Hari
Surabaya, CNN Indonesia — Warga Kota Surabaya dan sekitarnya merasakan fenomena bediding atau suhu udara yang terasa jauh lebih dingin dari biasanya pada malam hingga pagi hari, meskipun di siang hari cuaca terasa terik. Kondisi ini dipicu karena Surabaya sedang memasuki periode awal musim kemarau, yang ditandai dengan minimnya tutupan awan di langit, ungkap Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda.
Kondisi Musim Kemarau dan Suhu Malam yang Dingin
Prakirawan BMKG Juanda, Restina Wardhani, menyatakan bahwa ketiadaan awan yang menyebabkan pelepasan panas Bumi ke atmosfer pada malam hari terjadi tanpa hambatan, sehingga suhu udara turun. Ini membuat suhu udara terasa dingin terutama di wilayah Surabaya dan sekitarnya.
“Pada malam hari tutupan awan lebih sedikit yang mengakibatkan suhu terasa dingin. Pada siang hari suhu akan terasa panas,” tambah Restina.
Prognosis dan Imbauan dari BMKG Juanda
Berdasarkan data BMKG, suhu terendah di Kota Pahlawan saat fenomena bediding ini berlangsung diperkirakan bisa menyentuh angka 26 derajat Celsius. Kondisi ini diprediksi masih akan bertahan dalam kurun waktu beberapa hari ke depan. BMKG Juanda mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
“Masyarakat diimbau selalu menggunakan pelindung kulit dan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan dan menghindari paparan matahari langsung,” tutupnya.
Fenomena bediding ini memberikan suasana yang lebih sejuk di Surabaya, namun tetap dibutuhkan kewaspadaan terhadap perubahan suhu dan kondisi cuaca. Tetap jaga kesehatan dan kenakan perlindungan saat berada di luar ruangan agar terhindar dari dampak buruk cuaca ekstrem.












