Pakar oseanografi meramalkan potensi berkah di laut meski beberapa wilayah Indonesia mengalami kekeringan selama musim kemarau yang kemungkinan disertai dengan fenomena El Nino. BMKG menyatakan bahwa musim kemarau 2026 akan berlangsung dari April hingga September dengan kondisi yang lebih kering dari biasanya. Meskipun kemarau berpotensi menyebabkan kekeringan di daratan, namun bagi sektor kelautan, transisi musim ini dapat meningkatkan kesuburan laut melalui fenomena upwelling.
Awal musim kemarau akan memicu pergerakan Angin Timuran yang kuat, mendorong massa air permukaan laut ke lepas pantai, yang kemudian digantikan oleh massa air dingin yang kaya nutrien dari lapisan lebih dalam. Hal ini akan meningkatkan produktivitas primer laut melalui fotosintesis fitoplankton. Prediksi menunjukkan peningkatan keberlimpahan ikan pelagis kecil seperti lemuru di Selat Bali.
Riset oseanografi menunjukkan bahwa fenomena upwelling di selatan Jawa memiliki karakteristik unik, yang disebut RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling). Keberadaan lapisan thermocline yang terangkat selama proses upwelling menjadi indikator utama dalam pemetaan daerah penangkapan ikan. Wilayah Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara diidentifikasi sebagai habitat migrasi dan pemijahan ikan penting.
Selain itu, riset tersebut menyoroti sinergi antara Angin Timuran dan El Nino yang dapat memperkuat intensitas upwelling, berdampak pada peningkatan stok ikan pelagis. Meskipun El Nino meningkatkan risiko kekeringan daratan, potensi sumber pangan dari laut dapat menggantikan ancaman kekurangan pangan. Riset oseanografi memberikan wawasan tentang hubungan antara dinamika laut, variabilitas iklim, dan potensi peningkatan produktivitas kelautan selama musim kemarau.










