Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya melalui konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Fenomena deepfake yang merajalela membuat masyarakat meragukan keabsahan informasi visual yang tersebar di media sosial. Misalnya, video Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dituduh sebagai hasil AI karena menampilkan dia memiliki enam jari, meskipun sebenarnya video itu asli. Namun, dalam tengah konflik geopolitik yang memanas, kebenaran sering kali menjadi korban pertama. Teknologi AI yang semakin canggih mampu menciptakan gambaran visual yang hampir sempurna, memicu keraguan dan disinformasi di kalangan masyarakat. Sejumlah konflik internasional seperti invasi Rusia ke Ukraina, perang Israel-Gaza, dan konflik India-Pakistan juga memicu penyebaran konten AI yang membingungkan. Hal ini menghasilkan volume dan tingkat realisme konten yang diproduksi dengan biaya rendah namun memiliki dampak besar di platform media sosial. Dewan Pengawas Meta bahkan mengingatkan bahwa konten palsu yang dihasilkan oleh AI dapat memicu kekerasan nyata dan memperparah konflik yang sedang terjadi. Di tengah pandemi disinformasi ini, batas antara fakta dan fabrikasi semakin kabur, memberi ruang bagi manipulasi visual yang menyesatkan dan merugikan.
Senjata Canggih Terbaru di Perang Iran: Daya Hancur Dahsyat
Read Also
Recommendation for You
Pakar oseanografi meramalkan potensi berkah di laut meski beberapa wilayah Indonesia mengalami kekeringan selama musim…

Fenomena El Nino yang diperkirakan akan sangat kuat dalam beberapa bulan ke depan meningkatkan peringkat…

Sejumlah wilayah di Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas tinggi meskipun secara kalender klimatologis telah…
Pada Sabtu (11/4) pagi, empat astronaut Artemis II sukses melakukan splashdown atau mendarat kembali ke…
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menggandeng startup lokal untuk memperkuat penanganan judi online atau…




