Rusia: Aplikasi Max, Pengganti Whatsapp dan Telegram?

Rusia tengah mempromosikan aplikasi pesan instan bernama Max sebagai platform media sosial tanpa enkripsi melalui kampanye promosi besar-besaran. Di samping itu, terjadi pemblokiran serentak terhadap aplikasi populer WhatsApp dan Telegram. Penggunaan aplikasi Max telah memunculkan kekhawatiran di kalangan kritikus dan kelompok hak digital terkait potensi pemantauan oleh pemerintah Rusia serta upaya untuk memutus hubungan digital dengan negara-negara Barat.

Aplikasi Max diperkenalkan pada tahun 2025 oleh VK, raksasa media sosial Rusia. Platform ini disamakan dengan WeChat dari Tiongkok, yang menggabungkan fungsi media sosial, pesan instan, hingga akses ke layanan pemerintah dan perbankan. Meskipun penggunaan aplikasi ini tidak diwajibkan, namun pihak berwenang menekankan bahwa hidup tanpa Max akan menjadi semakin sulit.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut Max sebagai platform yang lebih “aman” dan sesuai dengan apa yang disebut sebagai “kedaulatan teknologi” oleh Rusia. Tujuan dari promosi Max ini sebagian besar terkait dengan rencana pemerintah Rusia untuk mengontrol lebih lanjut akses internet dan informasi yang dipublikasikan. Aplikasi Max telah diinstal secara otomatis pada ponsel dan tablet yang dijual di Rusia sejak September 2025.

Dibandingkan dengan WhatsApp dan Telegram, Max dimasukkan dalam “daftar putih” Rusia untuk layanan digital yang tetap beroperasi selama terjadi pemadaman internet. Hal ini dilakukan oleh Rusia sebagai upaya untuk mengatasi serangan drone dari Ukraina. Meskipun awalnya hanya tersedia untuk pengguna kartu SIM Rusia atau Belarusia, Max kini juga dapat digunakan oleh nomor telepon dari 40 negara lain yang dianggap “sahabat” oleh Rusia.

Penyebaran aplikasi Max telah menyebabkan perusahaan dan sekolah di Rusia untuk beralih ke platform ini, seiring dengan perpindahan konten dari selebriti dan blogger populer. Sementara itu, alasan di balik penggantian Telegram adalah karena Ukraina menggunakan platform tersebut untuk kepentingan mereka, termasuk dalam rekrutmen untuk aksi sabotase. Kampanye agresif promosi Max diibaratkan oleh Dmitry Zakharchenko, pendiri lembaga analitik GRFN, seperti papan iklan propaganda Soviet.

Source link