Rezeki dalam pandangan Islam tidak hanya dipahami sebagai hasil dari kerja keras semata. Ada dimensi spiritual yang diyakini memiliki pengaruh besar terhadap kelapangan atau kesempitan rezeki seseorang. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Anwar Manshur, mengingatkan bahwa berbagai kebiasaan yang sering dianggap sepele justru dapat menjadi penghambat datangnya rezeki. Dalam sebuah pengajian Ramadhan yang membahas kitab Ta’limul Muta’allim dan disiarkan melalui kanal YouTube Lirboyo, Kiai Anwar menjelaskan bahwa hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan turut menentukan keberkahan hidup. Menurutnya, rezeki bukan semata-mata hasil perhitungan rasional atau usaha duniawi, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi batin seseorang.
“Seseorang dapat terhalang rezekinya karena dosa yang ia lakukan,” ujar Kiai Anwar. Salah satu perilaku yang menurutnya memiliki dampak besar terhadap keberkahan hidup adalah kebohongan. Ia menilai bahwa dusta tidak hanya menjadi persoalan moral, tetapi juga membawa konsekuensi spiritual yang panjang bagi pelakunya. “Kebohongan itu mewariskan kefakiran,” ucapnya.
Kiai Anwar juga menyoroti kebiasaan lain yang sering dilakukan tanpa disadari, yakni tidur setelah waktu subuh. Menurutnya, waktu pagi memiliki nilai spiritual yang besar dalam Islam karena diyakini sebagai saat turunnya keberkahan. “Waktu pagi adalah saat di mana keberkahan didistribusikan. Tidur di waktu pagi itu menghalangi rezeki,” tuturnya. Ia pun mengajak umat Islam untuk memanfaatkan waktu setelah subuh dengan aktivitas yang bermanfaat, baik berupa ibadah maupun kegiatan yang produktif. Aktivitas sederhana seperti berdzikir, membersihkan rumah, hingga menjaga kebersihan peralatan makan dinilai dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk mendatangkan keberkahan. Menyapu halaman rumah dan menjaga kebersihan wadah makanan adalah bagian dari upaya menarik kekayaan, ungkapnya.












