Krisis global pasokan chip memori (RAM) semakin mempengaruhi harga komponen komputer dan berpotensi berdampak pada industri smartphone. Meskipun dampaknya saat ini belum sepenuhnya terasa, laporan terbaru memperingatkan bahwa pasar smartphone dapat terkena imbas dalam beberapa bulan ke depan.
Lembaga riset pasar International Data Corporation (IDC) memperkirakan penurunan pasar smartphone global sebesar 12,9 persen pada tahun 2026. IDC bahkan menyebut kondisi ini dapat memicu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya di industri tersebut.
Bloomberg melaporkan bahwa produsen smartphone mulai mengurangi spesifikasi, menghapus model entry-level yang kurang menguntungkan, dan mendorong konsumen untuk beralih ke perangkat kelas atas sebagai respons terhadap kekurangan memori. Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, mengatakan bahwa pasar smartphone akan mengalami pergeseran besar setelah krisis berakhir.
Dampak dari krisis pasokan RAM ini terutama dirasakan oleh perangkat Android, yang umumnya memiliki margin keuntungan tipis dan bersaing dalam harga yang kompetitif. IDC mencatat bahwa segmen entry-level dapat terdampak paling buruk karena biaya memori menyumbang sebagian besar dari total biaya produksi.
Perusahaan-perusahaan seperti Lenovo dan Xiaomi telah mengisyaratkan kemungkinan kenaikan harga sebagai dampak dari kelangkaan RAM. Sebaliknya, perusahaan seperti Apple dianggap lebih siap menghadapi tekanan ini berkat posisi premium dan margin keuntungan yang lebih tinggi.
Namun, pandangan analis dan pakar riset secara luas pesimistis, memperkirakan bahwa krisis akan berdampak terutama pada segmen ponsel murah. Meskipun harapan untuk perbaikan pasokan di masa depan, harga memori diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat sebelum krisis.
Dengan demikian, era smartphone dengan harga terjangkau kemungkinan akan berakhir, dan pasar smartphone dapat mengalami perubahan signifikan dalam hal harga dan kompetisi di masa mendatang.










