AwanPintar.id, sebuah platform keamanan cyber nasional dari PT Prosperita Sistem Indonesia baru-baru ini merilis laporan mengenai Ancaman Digital di Indonesia Semester II 2025. Dalam laporan ini, ditemukan bahwa serangan siber yang berasal dari dalam negeri mengalami peningkatan signifikan, membuat Indonesia menjadi sumber serangan spam dan malware terbesar sepanjang tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa banyak infrastruktur IT di dalam negeri, mulai dari server perusahaan, PC, hingga perangkat Internet of Things (IoT), telah terkompromi dan rentan terhadap eksploitasi.
Menurut laporan AwanPintar.id, tren serangan siber di Indonesia saat ini berada pada level kewaspadaan tinggi, dengan total 234.528.187 serangan terjadi selama semester II 2025, atau rata-rata 15 serangan siber per detik. Jumlah serangan ini mengalami peningkatan signifikan hingga 75,76 persen dibandingkan semester sebelumnya. Terutama pada bulan Desember 2025, jumlah serangan meningkat mencapai 90.590.833, kemungkinan dipicu oleh aktivitas tinggi serangan Distributed Denial of Service (DDoS) dan eksploitasi terhadap transaksi ekonomi digital selama liburan akhir tahun.
Yudhi Kukuh, pendiri AwanPintar.id, menekankan pentingnya edukasi literasi keamanan di masyarakat untuk menghadapi serangan siber yang semakin agresif. Salah satu serangan yang meningkat signifikan adalah Attempted Administrator Privilege Gain, di mana pelaku berusaha mencuri hak akses admin pada sistem Windows. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku serangan siber menggunakan metode yang lebih canggih dan agresif, seperti DDoS, untuk melumpuhkan infrastruktur yang krusial.
Botnet Mirai juga diketahui turut berperan dalam peningkatan serangan siber. Botnet ini, yang aktif sejak semester I 2025, kembali muncul dengan kemampuan yang lebih canggih dalam menginfeksi perangkat IoT untuk melancarkan serangan DDoS dalam skala besar. Penjahat siber juga diketahui memanfaatkan pintu belakang (backdoor) untuk merebut hak akses admin tanpa terdeteksi, kemudian melakukan serangan ransomware atau pencurian data. Pelaku siber terus berkembang dalam metode serangan mereka, sehingga penting bagi masyarakat untuk memahami dan meningkatkan keamanan cyber mereka.












