Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa sejak 1988, dampak fatal akibat cuaca ekstrem seperti banjir, badai, dan gelombang panas serta dingin yang ekstrem telah meningkat di banyak wilayah di dunia. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak hanya terlihat dari segi angka kematian, tetapi juga dari kerugian ekonomi, hilangnya hari kerja, dan kerusakan properti.
Studi ini yang berjudul ‘Climate Hazard Mortality: Diagnosis Trends and Outliers’ dipublikasikan dalam Geophysical Research Letter pada 4 Desember 2025 menganalisis data bencana iklim global untuk menyoroti dampak cuaca ekstrem pada manusia. Selain itu, temuan studi menunjukkan tren yang beragam antarwilayah. Di Asia, misalnya, jumlah kematian akibat banjir dan badai cenderung menurun karena adanya sistem peringatan dini dan kemampuan adaptasi masyarakat.
Sementara itu, di Eropa, kematian akibat gelombang panas menunjukkan tren peningkatan seiring dengan makin seringnya panas ekstrem. Di Afrika, banjir menjadi semakin mematikan, walaupun data menjadi terpengaruh oleh peristiwa ekstrem yang sangat besar dampaknya, seperti badai Daniel di kawasan Mediterania pada September 2023.
Analisis Cael, peneliti dari Departemen Ilmu Geofisika Universitas Chicago, menggunakan data dari Basis Data Peristiwa Darurat (EM-DAT) untuk menyimpulkan bahwa pengurangan kerentanan di Asia sejak 1988 telah menyelamatkan sekitar 350.000 jiwa. Penelitian ini memberikan wawasan yang mendalam tentang tren kematian manusia akibat cuaca ekstrem selama periode tersebut.












