Meningkatkan Perlindungan terhadap Teknologi Deepfake

Perusahaan keamanan siber Kaspersky melakukan prediksi dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap lanskap keamanan siber pada tahun 2026. Hal ini mencakup perkembangan teknologi deepfake dan peran AI sebagai alat analisis keamanan. Di kawasan Asia Pasifik, survei dari Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan bahwa 78 persen profesional telah menggunakan AI setidaknya seminggu sekali, melebihi rata-rata global. Adopsi AI yang cepat dan luas di Asia Pasifik dipengaruhi oleh konsumen yang terhubung, penetrasi perangkat yang besar, dan populasi muda yang melek teknologi.

Investasi yang kuat, strategi CEO, dan pesatnya pasar digital di Asia Pasifik telah mengubahnya menjadi pusat AI yang dinamis di dunia. Ini juga mempengaruhi lanskap keamanan siber, di mana pemimpin keamanan siber harus memperhatikan inovasi AI di kawasan ini. AI digunakan oleh penyerang untuk mengotomatiskan serangan, sementara pihak pertahanan memanfaatkannya untuk mendeteksi ancaman dengan lebih cepat dan cerdas.

Para ahli Kaspersky meramalkan bahwa pada tahun 2026, AI akan memiliki dampak signifikan terhadap keamanan siber. Perkembangan seperti deepfake menjadi mainstream, peningkatan kualitas konten sintetis, pengembangan watermark AI, dan AI sebagai alat penjahat siber akan mempengaruhi bagaimana ancaman siber dibuat dan disebarkan. Membidik ke masa depan, AI diprediksi akan menjadi alat analisis keamanan yang akan membantu memindai infrastruktur secara kontinu dan mengidentifikasi kerentanan. Penggunaan AI tidak hanya akan memberikan manfaat tetapi juga menantang keamanan siber.

Source link