Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, memberikan tanggapan terhadap kritik yang muncul dari masyarakat mengenai keterlambatan distribusi tenda pengungsian di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Menurutnya, tenda-tenda tersebut sudah dikirim segera setelah akses darat menuju wilayah terdampak bencana terbuka. Suharyanto mengatakan bahwa sejumlah tenda besar dan tenda keluarga telah dikirimkan, dengan jumlah yang akan terus bertambah seiring waktu. Ia menegaskan bahwa keterlambatan distribusi tenda tidak bersifat politis, tetapi lebih disebabkan oleh kendala akses ke lokasi terdampak bencana.
Sebelumnya, terdapat pemberitaan yang menyebutkan bahwa tenda-tenda BNPB baru dipasang menjelang kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke lokasi bencana, bahkan beberapa warga mengungsi di bawah jembatan selama lebih dari seminggu. Namun, Suharyanto menjelaskan bahwa kendala akses menjadi faktor utama dalam pengiriman tenda, bukan alasan politis seperti yang dituduhkan. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya adalah pejabat pertama yang memasuki Aceh Tamiang pasca-bencana untuk melakukan pendataan langsung di lapangan.
Wilayah Aceh Tamiang akhirnya dapat dilalui oleh kendaraan darat setelah beberapa hari terakhir melalui jalur Medan, yang kemudian diikuti dengan intensifikasi pengiriman bantuan logistik oleh BNPB dalam skala besar. Suharyanto mengajak media untuk memberikan informasi secara objektif dan menghimpun keterangan dari berbagai sumber sebagai bentuk kritik yang membangun bagi BNPB.
Kritik dari publik diharapkan dapat menjadi motivasi bagi BNPB untuk terus meningkatkan respons dan pelayanan di lapangan. Hal ini terutama penting mengingat perlunya distribusi bantuan yang cepat, merata, dan transparan bagi para pengungsi. BNPB berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem logistik dan komunikasi guna memastikan bahwa kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi tanpa menunggu momen seremonial atau kunjungan pejabat.












