48% Perusahaan Mengadopsi AI untuk Keberlanjutan Bisnis

Schneider Electric merilis hasil survei tahunan mereka yang disebut Green Impact Gap, menyoroti bagaimana perusahaan menggunakan keberlanjutan sebagai strategi untuk menghadapi tantangan ekonomi. Salah satu alat yang semakin populer dalam mencapai ambisi keberlanjutan adalah kecerdasan buatan (AI). Perusahaan di Indonesia memandang keberlanjutan sebagai langkah kunci untuk pertumbuhan berkelanjutan di tengah ketidakpastian bisnis. Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, penggunaan digitalisasi dan AI semakin meningkat untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi risiko, dan menciptakan nilai jangka panjang. Teknologi AI terbukti membantu perusahaan Indonesia dalam mengelola risiko finansial dan energi.

Menurut survei ini, 48 persen perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI untuk mendukung ambisi keberlanjutan mereka. Penggunaan AI semakin umum dalam mengoptimalisasi proses dan sumber daya, dengan fokus pada otomatisasi pengumpulan dan pelaporan data, optimasi konsumsi energi, serta dukungan untuk desain produk. Selain itu, para pemimpin bisnis di Indonesia menganggap inovasi dan daya saing sebagai pendorong utama. Investasi pada inovasi dan teknologi dianggap penting untuk menghadapi permintaan komputasi yang semakin tinggi, sambil memastikan operasional yang efisien dan ramah lingkungan.

Meski demikian, terdapat ‘Green Impact Gap’ yang mengindikasikan kesenjangan antara target keberlanjutan dan tindakan nyata untuk mencapainya. Meskipun 97 persen perusahaan di Indonesia memiliki target keberlanjutan, kurang dari separuh dari mereka yang telah mengambil langkah konkret untuk mencapainya. Hal ini menunjukkan perlunya tindakan lebih komprehensif untuk mencapai tujuan keberlanjutan. Perkembangan ini mencerminkan iklim yang semakin kondusif bagi transformasi keberlanjutan di berbagai sektor di Indonesia.

Source link