Latihan Terpadu TNI yang berlangsung di Bangka Belitung dan Morowali tahun 2025 menunjukkan komitmen negara terhadap penjagaan sumber daya alam strategis. Sebanyak 68 ribu personel TNI dari matra darat, laut, dan udara dikerahkan, menandai salah satu mobilisasi terbesar di bawah instruksi langsung Presiden Prabowo. Pengerahan besar ini diarahkan untuk mencegah kerugian negara akibat maraknya aktivitas tambang ilegal yang berpotensi merusak lingkungan dan ekonomi.
Dalam pidato sebelumnya, Presiden menekankan bahaya dari 1.000 titik tambang timah ilegal yang bertebaran di Bangka Belitung. Tanpa pengawasan dan penindakan, produksi timah nasional bisa hilang hingga 80 persen. Selain itu, kerusakan lingkungan akibat penambangan ilegal memperburuk kondisi kehidupan masyarakat di sekitar tambang.
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan, “Latihan ini bukan sekadar menunjukkan kekuatan militer, tapi juga menegaskan bahwa kedaulatan negara wajib dijaga melalui kepatuhan hukum dan penertiban atas pelanggaran di sektor sumber daya alam.” Ia memantau langsung latihan di Bangka dan menegaskan pentingnya pengamanan serta pengelolaan kekayaan negara secara disiplin.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto bersama pejabat negara dari Kementerian ESDM, Kejaksaan, dan lembaga pengawasan negara menggarisbawahi, latihan terpadu ini menguji kesiapsiagaan prajurit menghadapi skenario Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Menurutnya, perlindungan aset nasional kini tak kalah penting dari pertahanan teritorial. Bangka Belitung serta Morowali menjadi contoh daerah yang rawan dieksploitasi oleh pelaku tambang ilegal, sehingga perlu pengamanan menyeluruh.
Presiden kemudian memerintahkan pemblokiran total seluruh jalur distribusi hasil tambang ilegal dari dua pulau utama di Bangka Belitung. Arahan tersebut mempertegas komitmen pemerintah dalam mengontrol arus keluar-masuk barang guna menekan praktik ilegal yang merugikan negara.
Simulasi dan demonstrasi dalam latihan ini juga mengedepankan kerjasama antar-matra. Tiga pesawat tempur F-16 Wing Udara 31 melakukan serangan udara terarah, diikuti aksi penerjunan pasukan Batalyon 501/Bajra Yudha. TNI AL menunjukkan kecepatan dan ketepatan dalam menangkap kapal ponton ilegal, sementara pasukan khusus Koopssus menuntaskan operasi perebutan sasaran strategis secara efisien. Menhan dan Panglima TNI menyaksikan sendiri keberhasilan ini, termasuk inspeksi hasil tangkapan ponton di Dermaga Belinyu dan lokasi tambang pasir di Dusun Nadi.
Penempatan personel dan alutsista skala besar mengirim sinyal kuat bahwa pelestarian dan perlindungan aset kekayaan bangsa bukan hanya ranah penegak hukum sipil, melainkan menjadi prioritas utama pertahanan negara. Tindakan di Bangka Belitung dipilih karena daerah ini secara strategis menyimpan komoditas vital nasional yang rawan dijarah pihak tidak bertanggung jawab.
Dengan keterlibatan aktif TNI, pemerintah berharap upaya penyelamatan dan pengelolaan kekayaan negara di wilayah rawan tambang ilegal akan semakin optimal. Keberadaan militer juga memperkuat kepercayaan masyarakat bahwa kedaulatan serta masa depan tanah air tetap terjamin di tengah tantangan eksploitasi ilegal.
Sumber: TNI Siap Perang Lawan Mafia Tambang: Latihan Gabungan Besar Di Bangka Belitung Uji Doktrin OMSP
Sumber: TNI Gelar Latihan Gabungan, Kirim Sinyal Perang Ke Mafia Tambang Ilegal












