Ribuan hektare tanaman tebu milik petani di Kabupaten Blora terancam tidak bisa digiling karena operasional Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) di Todanan terhenti akibat kerusakan mesin boiler. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora, Sunoto, mengekspresikan ketidakpuasan terhadap keputusan manajemen pabrik yang dianggapnya sebagai tidak tepat. Sunoto menyoroti penempatan personel non-ahli di bagian kunci pabrik yang menyebabkan kerusakan berulang, berdampak pada ribuan petani tebu. Sunoto bersama dengan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Blora, Kusnanto, menilai masalah tersebut serius dan bahkan siap membawa masalah ini ke tingkat pemerintah pusat.
Kondisi mesin boiler yang bermasalah dan telah digunakan sejak 2010 menjadi sumber permasalahan utama. Meskipun telah dilakukan upaya perbaikan, usia yang sudah tua menjadi hambatan. Pelaksana Tugas Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, mengklarifikasi bahwa pabrik telah menjalin kerja sama dengan pabrik gula di sekitar Blora untuk menyerap sebagian tebu dari petani. Meskipun langkah-langkah darurat telah dilakukan, para petani masih mengalami kekhawatiran terhadap kualitas tebu jika tidak segera digiling.
Para petani menekankan pentingnya pihak terkait seperti pemerintah daerah, DPRD, dan manajemen GMM untuk menyelesaikan masalah ini dengan tindakan nyata. Ratusan hektare tanaman tebu yang belum ditebang membuat potensi kerugian mencapai puluhan miliar rupiah. Penghentian giling tanpa pemberitahuan sebelumnya telah menimbulkan protes dari petani yang merasa dirugikan. Dengan kondisi tersebut, manajemen PG GMM akhirnya memutuskan untuk menutup giling pada 25 September 2025, dengan penerimaan tebu terakhir pada 24 September pukul 24.00 WIB.












