Kemacetan kendaraan di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang mencapai 9 hingga 17 kilometer dinilai tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya kapal. Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP) Banyuwangi menyebut keterbatasan daya tampung serta kesiapan dermaga sebagai persoalan utama yang membuat armada tidak dapat beroperasi secara maksimal.
Ketua DPC GAPASDAP Banyuwangi, Nurjatim, mengatakan perusahaan-perusahaan angkutan sebenarnya telah menyiapkan 58 kapal untuk melayani penyeberangan. Namun, tujuh dermaga yang tersedia hanya mampu menampung pengoperasian 28 kapal secara bergantian. Rata-rata, satu dermaga digunakan untuk melayani empat kapal.
Kapasitas operasional itu kembali menyusut karena adanya pemeliharaan infrastruktur di sisi Bali. Perbaikan dermaga Movable Bridge (MB) 2 di Gilimanuk membuat jumlah kapal yang dapat digunakan turun menjadi 23 unit, atau sekitar 40 persen dari total armada yang telah disiapkan.
Kapal tersedia, tetapi dermaga terbatas
Nurjatim menilai kondisi tersebut memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara jumlah kapal dan kapasitas pelabuhan. Saat antrean kendaraan terus memanjang, sebagian kapal justru tidak bisa dikerahkan karena tidak tersedia tempat sandar yang memadai.
“Ironis sekali, dalam kondisi macet sampai 9-17 kilometer, tetapi kapal-kapalnya tidak bisa beroperasi karena tidak tersedia dermaga yang cukup,” ujar Nurjatim.
Menurut dia, penanganan antrean tidak bisa terus diarahkan pada persoalan ketersediaan kapal. Perluasan dan penambahan dermaga menjadi langkah yang mendesak agar armada yang saat ini belum dapat beroperasi bisa segera digunakan untuk melayani pengguna jasa.
Persoalan yang disoroti GAPASDAP bukan hanya jumlah dermaga. Organisasi tersebut juga mempertanyakan kemampuan struktur fasilitas pelabuhan dalam menahan beban kendaraan berat. Sejumlah dermaga dinilai belum cukup andal untuk melayani truk dengan bobot muatan sekitar 30 hingga 50 ton.
Peremajaan kapal perlu diikuti penguatan infrastruktur
Di saat operator menyiapkan kapal berukuran lebih besar, kapasitas fasilitas pelabuhan belum sepenuhnya mengikuti kebutuhan tersebut. Nurjatim menyebut sejumlah operator telah menyiagakan kapal dengan kapasitas 2.000 hingga 3.000 Gross Tonnage (GT). Namun, peningkatan armada itu belum diimbangi penguatan dermaga plengsengan maupun dolphin.
“Kalau meminta kapal diperbesar, dermaganya juga harus diperkuat. Jangan dermaganya tetap seperti itu, sementara kapal yang harus dilayani semakin besar,” tegasnya.
GAPASDAP Banyuwangi mendesak seluruh pemangku kepentingan melakukan evaluasi secara objektif dan menyeluruh terhadap sektor penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Evaluasi, menurut organisasi tersebut, tidak seharusnya hanya menyoroti perusahaan pelayaran, tetapi juga kesiapan infrastruktur pelabuhan yang berkaitan langsung dengan kelancaran arus kendaraan, distribusi logistik, dan kenyamanan masyarakat.












