Pakar Soroti Program PLTS 100GWp Prabowo untuk Desa Produsen Energi
Jakarta, CNN Indonesia — Direktur Kebijakan Iklim Tiza Mafira menyoroti langkah Presiden Prabowo Subianto dalam meluncurkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp). Tiza menilai program ini sebagai indikator komitmen yang baik dalam mendorong energi terbarukan.
Langkah Inovatif sebagai Pendorong Energi Terbarukan
Tiza mengapresiasi rencana pembangunan PLTS berkapasitas 100GWp yang didesentralisasi dan terutama dipasang di desa-desa. Menurutnya, desa bisa menjadi produsen energi dengan adanya kebijakan yang mendukung pembangunan unit usaha di desa tersebut.
Desa-desa diharapkan tidak hanya menjadi konsumen listrik tetapi juga produsen energi, misalnya melalui koperasi atau badan usaha milik desa. Hal ini dianggap sebagai langkah inovatif yang harus didukung dengan kebijakan yang tepat.
Target Ambisius untuk Mencapai Swasembada Energi
Dalam program PLTS 100GWp yang baru saja diluncurkan di Bali, Presiden Prabowo menekankan pentingnya program ini dalam mencapai target swasembada energi Indonesia. Rencananya, pembangunan 100 GWp ini akan dilakukan secara bertahap dengan target rampung dalam waktu tiga tahun.
Prabowo menegaskan bahwa program ini menjadi langkah penting untuk memperluas pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta memperkuat ketahanan energi nasional. Dalam tahap awal, pemerintah menargetkan pembangunan kapasitas sebesar 17GWp sebagai bagian dari upaya mengembangkan energi surya di Indonesia.
Pada tahap pertama, terdapat 14 proyek PLTS dengan total kapasitas 5.216 megawatt peak (MWp) yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, groundbreaking, peresmian, dan persiapan tender.












