Konservasi Megamendung Terus Berkembang Bersama Paseban Foundation

Di tengah pesatnya tekanan pembangunan dan pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa, kawasan Megamendung di Kabupaten Bogor berhasil menjaga sisa-sisa kekayaan primata yang semakin langka. Melalui riset intensif, pengamatan lapangan, serta pemasangan kamera tersembunyi, Paseban Foundation menemukan lima spesies primata endemik masih hidup berdampingan di habitat sempit Megamendung. Temuan ini menjadi sorotan penting dalam perhelatan Paseban Foundation Annual Dinner 2026 yang diselenggarakan di Jakarta, tepat memperingati Hari Konservasi Alam Nasional dan dua tahun perjalanan yayasan tersebut.

Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation, menegaskan kondisi unik Jawa sebagai pulau terpadat dan terpenuh manusia di nusantara, tetapi di tengah tekanan itu, Megamendung masih mampu menjadi rumah bagi kelangsungan kelima primata terakhirnya. “Ada ruang yang sangat terbatas bagi alam di Jawa, namun Megamendung membuktikan kawasan kecil pun bisa jadi benteng terakhir,” ujar Wahdi pada 14 Agustus 2026.

Ruang hidup bagi lima jenis primata di Megamendung menunjukan betapa strategisnya kawasan ini tidak hanya sebagai perlindungan spesies, tapi juga pusat keanekaragaman hayati, khususnya di pulau sebesar Jawa. Selain primata, survei ekosistem berhasil menorehkan daftar kemunculan satwa penting seperti Elang Jawa yang langka dan Macan Tutul Jawa, serta beraneka flora-fauna khas pegunungan tropis yang masih lestari.

Secara lokasi, Megamendung tergolong dekat dengan pusat kota Jakarta sekaligus berada dalam kawasan Cagar Biosfer Cibodas. Letak tepiannya membuat kawasan ini sangat rentan terhadap kerusakan akibat pembangunan, urbanisasi, dan perilaku manusia. Cagar biosfer sendiri merupakan konsep zona multiguna yang menyelaraskan perlindungan alam dengan aktivitas manusia lewat pembagian zona inti yang steril, penyangga, sampai zona interaksi sosial ekonomi.

Keberlanjutan satwa tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan utuh. Jaringan hutan, sumber air, habitat jelajah satwa, lahan pertanian, hingga pemukiman membentuk sistem yang saling berkaitan erat. Wiratno, Penasihat Paseban Foundation, mengingatkan bahwa proses alamiah seringkali tidak patuh pada batas wilayah administratif. Air maupun satwa bebas bergerak lintas batas sesuai kebutuhan sumber daya.

Untuk itu, Wiratno menekankan kebutuhan hadirnya sistem konservasi kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat setempat, bisnis, peneliti, dan pegiat lingkungan dalam pengelolaan bentang alam bersama-sama.

Salah satu bentuk keseriusan diimplementasikan lewat penanaman vegetasi asli oleh Paseban Foundation. Sejak berdiri hingga Agustus 2026, telah ditanam 21.831 pohon lokal untuk merestorasi ekosistem Megamendung. Tidak cukup hanya perbaikan di habitat alami (in-situ), yayasan mulai mengembangkan pola ex-situ seperti penangkaran hewan strategis. Upaya breeding resmi telah dilakukan, terbukti dengan kelahiran tiga anak rusa di fasilitas penangkaran, yang rencananya akan dilepasliarkan dan perlahan memperbaiki rantai ekologi asli.

Pelepasliaran satwa bukan sekadar memindahkan hewan, melainkan rangkaian panjang mulai rehabilitasi, penyesuaian insting alami, evaluasi kesiapan habitat, sampai monitoring pasca-pelepasliaran agar tidak merusak keseimbangan populasi liar atau lingkungan sekitar.

Andy Utama, Pendiri sekaligus Pembina Paseban Foundation, menyadari pemulihan ekosistem tidak bisa selesai dalam beberapa tahun. Dari wawasan tersebut, tercipta Megamendung Century Initiative, cita-cita memperbaiki kawasan Megamendung sedekat mungkin ke bentuk aslinya pada abad lalu, dengan tetap mempertimbangkan kondisi masyarakat saat ini.

“Konservasi adalah warisan jangka berat. Tugas memastikan keberlanjutan ini harus dilanjutkan antar generasi, tidak cukup satu atau dua generasi saja. Kita perlu stamina dan regenerasi supaya alam tetap lestari untuk masa depan bersama,” tegas Andy. Agenda ini mengajak semua pihak—dari lokal hingga nasional—untuk menjaga habitat, jaringan ekosistem, ketersediaan air, sekaligus mendukung kehidupan masyarakat sekitarnya.

Di masa depan, kesatuan usaha konservasi bersama akan menentukan nasib flora dan fauna Megamendung serta relevansinya sebagai contoh bentang alam tropis yang lestari di tengah modernisasi Jawa.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor