Petani di Tapteng Keluhkan Kelangkaan Pupuk Bersubsidi
Petani di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menghadapi masalah kelangkaan pupuk bersubsidi di kios distributor. Hal ini membuat para petani khawatir terhadap pertumbuhan padi mereka yang belum mendapatkan pemupukan tahap pertama setelah satu minggu hingga dua pekan.
Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Meresahkan Petani
Kelangkaan pupuk bersubsidi, terutama di Kecamatan Sibabangun, menyebabkan keresahan di kalangan petani. Salah seorang petani, Yahya Harahap dari Desa Mombang Boru, menyampaikan bahwa pupuk subsidi seperti Urea dan Phonska sulit ditemukan. Para petani terpaksa menggunakan pupuk organik lokal atau membeli pupuk non-subsidi dengan volume yang lebih sedikit untuk menghemat biaya.
Situasi kelangkaan ini semakin memburuk sejak awal tahun 2025, meskipun harga pupuk bersubsidi telah turun. Harga pupuk Urea turun menjadi Rp1.800 per kilogram dan NPK seharga Rp1.840 per kilogram sejak tahun 2025. Namun, ketersediaannya di pasar masih menjadi permasalahan bagi petani.
Dinas Pertanian Akan Selidiki Kelangkaan Pupuk Subsidi
Menyikapi keluhan petani terkait kelangkaan pupuk subsidi, Dinas Pertanian Tapanuli Tengah berjanji akan melakukan penelusuran ke distributor dan kios resmi. Plt Kepala Dinas Pertanian, Jinto Siburian, menyatakan akan memeriksa lapangan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas terkait kendala dalam distribusi pupuk bersubsidi.
Para petani berharap agar Dinas Pertanian dapat mengawasi pendistribusian pupuk subsidi dengan lebih serius demi kelancaran produksi pertanian di daerah tersebut.












