Kasus DBD Meningkat 3x, Siklus Wabah Makin Cepat

Kasus DBD Meningkat Tajam di Indonesia

Pada dua dekade terakhir, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Jumlah kasus DBD telah meningkat hampir tiga kali lipat, dengan siklus wabah yang datang lebih cepat dari sebelumnya. Dari sekitar 10 tahun, kini siklus wabah DBD hanya berlangsung selama 3 tahun atau bahkan lebih singkat. Hal ini mengindikasikan bahwa DBD tidak lagi hanya menjadi ancaman musiman, melainkan menimbulkan ancaman kesehatan sepanjang tahun.

Data Dampak DBD di Indonesia

Menurut data Kementerian Kesehatan RI, DBD telah memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Pada tahun 2024, lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD terjadi di Indonesia, dengan total biaya pembiayaan mencapai sekitar Rp3 triliun menurut BPJS Kesehatan. Biaya ini tidak hanya membebani sistem kesehatan, tetapi juga berdampak pada produktivitas keluarga dan perekonomian nasional.

Para ahli memperingatkan bahwa DBD memiliki karakteristik yang sulit diprediksi dan dapat memburuk dengan cepat. Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menjelaskan bahwa gejala awal DBD seringkali tidak spesifik namun berpotensi berkembang menjadi kondisi serius.

Risiko DBD pada Anak dan Dewasa

Prof. Hartono menyebutkan bahwa sekitar 75% kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5-44 tahun, dengan tingkat kematian terbesar terjadi pada kelompok usia 5-14 tahun. Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, menegaskan bahwa orang dewasa juga rentan terhadap DBD, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Dr. Sukamto juga menambahkan bahwa kondisi komorbid seperti diabetes dan hipertensi dapat memperparah infeksi DBD pada orang dewasa. Dengan demikian, penanganan DBD perlu dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya terfokus pada anak-anak, tetapi juga pada kelompok usia dewasa yang rentan terhadap penyakit ini.

Source link