Misi Artemis II yang baru saja melintasi orbit Bulan mendapat sorotan tudingan miring dan banjir teori konspirasi. Foto-foto dan rekaman para astronaut dari antariksa dituduh sebagai rekayasa dan hasil CGI. Narasi tentang kembalinya manusia ke Bulan dipertanyakan di media sosial, dengan banyak orang skeptis terhadap keberhasilan NASA dalam mengirim manusia ke sisi terjauh Bulan.
Di platform X milik Elon Musk, banyak pengguna menyangkal keberhasilan NASA dalam misi ini dan menganggapnya sebagai rekayasa. Netizen Indonesia juga terpengaruh oleh narasi tersebut, percaya bahwa misi antariksa ini hanyalah syuting di sebuah studio. Hal ini terlihat dari komentar-komentar di kolom komentar video mengenai percakapan kru Artemis II dengan Presiden AS Donald Trump yang diunggah di Instagram CNN Indonesia.
Skeptisme terhadap misi Artemis II sebenarnya bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari teori konspirasi pendaratan Bulan pada misi Apollo 11 tahun 1969. Para penganut teori konspirasi telah mempertahankan narasi bahwa rekaman Neil Armstrong dan Buzz Aldrin hanyalah rekayasa. Argumen seperti bendera yang tampak berkibar di ruang hampa dan ketiadaan bintang di latar belakang foto kini diarahkan pada misi Artemis II.
Meskipun NASA sudah memberikan klarifikasi ilmiah berkali-kali, narasi skeptis ini terus berkembang di era digital. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk rasa takut, kurangnya literasi sains, bias kognitif, tantangan pribadi, dan ketidakmampuan untuk mengenali informasi yang menyesatkan di internet. Teori konspirasi seperti ini muncul bersamaan dengan hoaks dan narasi yang menyesatkan, mendapat dukungan dari bias kognitif dan dinamika sosial.
Eli Elster dari Universitas California menyatakan bahwa bias kognitif adalah salah satu alasan utama mengapa orang masih percaya pada teori konspirasi. Orang cenderung mencari jalan pintas mental untuk memahami dunia, termasuk dengan melihat niat dan kecerdasan di balik peristiwa-peristiwa acak. Faktor lainnya adalah dinamika sosial, di mana orang mengadopsi keyakinan tertentu tidak hanya karena keyakinan itu benar, tetapi juga karena dorongan dari orang lain atau untuk menunjukkan sesuatu tentang diri mereka kepada orang lain.






