Tasya Kamila kembali menjadi perbincangan publik setelah unggahannya mengenai kontribusinya sebagai alumni penerima beasiswa LPDP. Respons terhadap unggahannya menimbulkan perdebatan di media sosial yang mengarah pada isu transparansi dan dampak para penerima beasiswa negara. Berkaitan dengan hal ini, komentar dari alumni LPDP lain, Dwi Sasetyaningtyas, juga menjadi topik diskusi yang viral.
Di tengah situasi yang kompleks ini, Tasya melalui akun Instagramnya menunjukkan langkah-langkah yang telah diambilnya setelah kembali dari studi magister di Columbia University, AS. Namun, respon yang dia terima tidak selalu positif, dengan beberapa warganet mempertanyakan sejauh mana kontribusi Tasya sebanding dengan dana pendidikan yang diterimanya dari negara.
Komentar-komentar negatif tersebut tidak luput dari perhatian Tasya, yang mengaku kecewa akan hal tersebut. Dia menjelaskan bahwa upayanya dalam gerakan lingkungan dan kebijakan publik yang ia lakukan setelah studi di Columbia University, sebenarnya bertujuan untuk memberikan dampak yang nyata. Melalui yayasan Green Movement Indonesia yang ia dirikan, Tasya berusaha menerjemahkan ilmu kebijakan publik ke dalam tindakan nyata, sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan yang menjadi fokus nasional pada saat itu.
Tasya menekankan pentingnya sosok yang menjadi inisiator, penggerak, dan penghubung antara masyarakat dan pembuat kebijakan dalam gerakan sosial, terutama dalam bidang lingkungan. Dia menyatakan bahwa meskipun gerakan-gerakan ini terbuka untuk semua orang, namun dibutuhkan orang-orang yang mau mengambil peran sebagai penggerak dan penghubung untuk menjembatani antara pembuat kebijakan dan publik agar tujuan lingkungan dapat tercapai.












