Bahaya Gelombang Raksasa di Samudra Pasifik: Satelit Deteksi Apakah?

Sebuah penelitian yang dirilis pada September 2025 mengungkap gelombang laut setinggi 20 meter di Samudra Pasifik dengan bantuan citra satelit. Temuan ini memecahkan rekor sebagai gelombang tertinggi yang pernah terukur melalui citra satelit dan memunculkan pertanyaan mengenai bahayanya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa gelombang laut bisa menjadi “pembawa pesan” yang mampu mengirimkan energi destruktif ribuan kilometer melintasi samudra, bahkan jika badai tidak pernah menyentuh daratan.

Gelombang laut terbentuk akibat dorongan angin dan mencapai kekuatan maksimum saat badai berada di puncaknya. Namun, ancaman terbesar bagi wilayah pesisir seringkali bukan badai itu sendiri, melainkan gelombang panjang yang bergerak menjauh dari pusat badai. Gelombang-gelombang panjang ini menyebar melintasi lautan, dan sifat-sifatnya mengungkapkan ukuran dan kekuatan badai.

Dalam studi terbaru, tim peneliti yang didanai melalui Inisiatif Perubahan Iklim Badan Antariksa Eropa menggabungkan data satelit dengan catatan panjang proyek CCI Sea State yang merekam kondisi gelombang sejak 1991. Tim tersebut menyoroti Badai Eddie, yang mencapai puncaknya pada 21 Desember 2024 dengan gelombang hampir 20 meter di laut lepas. Studi ini menjadi yang pertama memberikan observasi langsung untuk memvalidasi model gelombang numerik dalam kondisi ekstrem.

Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa gelombang laut panjang membawa energi besar dan berpotensi berdampak signifikan pada komunitas pesisir dan infrastruktur maritim. Faktor perubahan iklim juga memengaruhi pola badai global dan gelombang laut. Langkah selanjutnya adalah menghubungkan temuan ini dengan perubahan iklim melalui model simulasi untuk melacak tren intensitas badai sepanjang waktu. Meskipun perubahan iklim mungkin menjadi faktor pendorong, kondisi dasar laut juga dapat memengaruhi gelombang laut, sehingga masalah ini masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Source link