Presiden Donald Trump tertangkap dalam serbuan pasukan Amerika Serikat ke Venezuela dengan alasan menguasai ladang minyak di negara itu. Paska-penangkapan Nicolas Maduro, Trump mengklaim bahwa Venezuela akan memberikan 30-50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat. Pengumuman itu disampaikan Trump melalui media sosialnya, Truth Social. Trump menyatakan minyak tersebut akan dijual dengan harga pasar dan manajemen keuangan akan dipegang olehnya untuk memastikan manfaat bagi rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.
Minyak telah menjadi daya penggerak AS untuk menyerang banyak negara di dunia dengan Venezuela menjadi target terbaru. AS telah berperan dalam sejarah eksplorasi dan pengeboran minyak di berbagai negara, termasuk di Timur Tengah. Penemuan minyak pertama kali terjadi pada tahun 1859 di AS oleh Kolonel Edwin L. Drake. Minyak ditemukan di sejumlah negara lain, di antaranya Persia (Iran), Meksiko, dan Venezuela. Berbagai perusahaan minyak Barat seperti Royal Dutch, Shell, dan Standard Oil of New Jersey turut ambil bagian dalam industri minyak global, termasuk di Timur Tengah.
Di era pasca Perang Dunia II, konsumsi minyak meningkat pesat karena pertumbuhan industri otomotif. Selain itu, penemuan minyak besar-besaran juga terjadi di Afrika dan Venezuela. Transformasi industri minyak dari masa ke masa memperlihatkan dominasi perusahaan-perusahaan Barat dalam kontrol pasokan minyak global. National Iranian Oil Company (NIOC) dan Perusahaan Minyak Venezuela merupakan contoh bagaimana sejarah penemuan minyak bumi mengalami berbagai perubahan struktural di bawah kontrol perusahaan-perusahaan minyak Barat.












