Kamis, 4 Desember 2025 – 18:13 WIB
Jakarta, VIVA – Belanja barang branded bekas atau preloved luxury semakin menjadi pilihan masyarakat urban Indonesia. Fenomena ini tidak hanya terkait gaya hidup, tetapi juga perubahan cara pandang terhadap nilai sebuah produk, kondisi ekonomi, hingga tumbuhnya komunitas yang menyediakan jaminan keaslian barang.
Baca Juga :
Purbaya Proyeksikan Bencana Sumatera Perlambat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV, Begini Perhitungannya
Kenaikan minat itu terasa di berbagai pusat jual beli preloved di Jakarta, salah satunya komunitas Senayan Preloved Branded Centre (SPBC) yang tahun ini memasuki usia ketiga. Untuk menandai momentum tersebut, SPBC menggelar bazar preloved luxury pertamanya pada 11–14 Desember 2025 di Grand Indonesia. Namun lebih dari sekadar acara, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana pasar preloved berkembang pesat dan makin diterima. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
1. Persepsi Baru: Preloved sebagai Investasi Gaya Hidup
Baca Juga :
APBD Naik, Pemprov DKI Jakarta Fokus Benahi Infrastruktur Kota
Jika dulu barang bekas identik dengan penurunan kualitas, kini banyak pembeli justru melihat preloved sebagai pilihan rasional. Produk fashion mewah dianggap memiliki resale value yang tetap stabil, sehingga bisa dipakai sekaligus menjadi aset.
“Masyarakat sudah semakin aware dan tidak malu lagi menggunakan barang preloved, karena mereka mengerti bahwa barang original preloved memiliki nilai jual kembali,” ujar Chathlea Agustine, Direktur Utama SPBC, dalam keterangannya, dikutip Kamis 4 Desember 2025.
Baca Juga :
Naik Rp 45 Triliun, Belanja Pemerintah Pusat Capai Rp 1.879 Triliun Per Oktober 2025
Perubahan persepsi itu membuat pasar preloved tumbuh tidak hanya di kalangan kolektor barang mewah, tetapi juga pembeli pemula yang ingin masuk ke dunia luxury dengan harga lebih terjangkau.
2. Kekhawatiran Soal Barang Palsu Terjawab oleh Komunitas
Salah satu hambatan utama pasar preloved adalah maraknya barang tiruan. Namun hadirnya komunitas dan platform terpercaya yang memberi jaminan keaslian membuat pembeli lebih tenang.
“Kami memberikan jaminan uang kembali tak terbatas waktu jika tas terbukti palsu. Komunitas kami tidak hanya melindungi penjual, tetapi juga pembeli,” kata Vivian Bong, Ketua SPBC Community 2025–2027.
Bagi banyak konsumen, kehadiran kurasi dan rekam jejak seller menjadi faktor penting yang membuat transaksi barang bekas terasa lebih aman.
3. Gaya Hidup Konsumtif yang Lebih Berkesadaran
Generasi muda menjadi pendorong besar tren preloved, bukan hanya karena harga yang lebih ramah, tetapi juga alasan keberlanjutan (sustainability). Membeli preloved dianggap sebagai bentuk konsumsi yang lebih bertanggung jawab karena memperpanjang umur pakai barang.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, sifat fast trend dalam fashion membuat banyak pengguna memilih preloved untuk mencari item edisi lama atau rare yang tidak lagi diproduksi.












