Surabaya, terletak di Provinsi Jawa Timur, merupakan salah satu kota yang menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Kota Surabaya, setidaknya 15.775 ton beras diperlukan setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan 3,02 juta jiwa warga. Meskipun masih terdapat 1.127,3 hektare lahan sawah yang tersebar di 13 kecamatan di Surabaya, potensi lahan ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Politisi muda Achmad Hidayat melihat bahwa lahan tersebut bisa dimanfaatkan lebih efisien dengan mengoptimalkan produksi beras singkong. Dengan harga yang terjangkau, kelebihan produktivitas, dan ketahanan yang relatif lebih baik dibandingkan padi, beras singkong memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan pangan. Diversifikasi pangan, termasuk pengembangan beras singkong, diharapkan dapat meningkatkan kedaulatan pangan dan memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat.
Achmad juga mencetuskan ide untuk mempopulerkan makanan pendamping beras, sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Dengan pengembangan singkong sebagai bahan makanan alternatif, diharapkan Surabaya bisa memenuhi sebagian kebutuhan pangan lokalnya sendiri. Dia menegaskan pentingnya kerjasama antara Pemerintah Kota Surabaya, dipimpin oleh Wali Kota Eri Cahyadi, dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan produksi beras singkong yang murah, sehat, dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan adopsi gagasan ini, diharapkan Surabaya bisa menjadi lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan warganya.












