Fenomena Bediding Jawa Timur: Cek Kapan Berakhirnya

Fenomena bediding atau cuaca dingin saat musim kemarau melanda sejumlah wilayah di selatan khatulistiwa, termasuk Jawa Timur. Kepala Stasiun Klimatologi Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, memperkirakan puncak musim kemarau di Jatim akan terjadi pada bulan Agustus mendatang. Prognosis menunjukkan bahwa sifat hujan sebagian besar diperkirakan di atas normal. Meskipun demikian, beberapa wilayah di Jatim juga diperkirakan akan mengalami suhu ekstrem seperti bediding karena kurangnya tutupan awan dan intensitas hujan yang rendah.

Bediding sendiri merupakan fenomena yang muncul secara musiman selama musim kemarau. Siklus ini ditandai dengan angin monsun timuran yang kering dan dingin karena minimnya tutupan awan serta rendahnya curah hujan. Hal ini dianggap sebagai sesuatu yang normal dalam konteks klimatologi, karena proses fisisnya terkait dengan kondisi atmosfer selama musim kemarau. Dengan langit yang cerah tanpa awan, panas bumi langsung dilepaskan ke atmosfer luar, membuat udara di permukaan terasa lebih dingin terutama saat malam sampai pagi hari.

Data pengamatan menunjukkan bahwa suhu terdingin selama Juli 2025 di pos Bromo tercatat sebesar 5,3 derajat Celsius. Prediksi Anung juga menyebutkan bahwa fenomena bediding di Jawa Timur ini kemungkinan akan terjadi dari bulan Juni hingga September selama musim kemarau, bergantung pada perubahan suhu harian. Di masa puncak musim kemarau, yaitu biasanya pada bulan Agustus, suhu terdingin cenderung terjadi.

Dampak dari fenomena bediding ini cukup luas, mulai dari masalah kesehatan hingga kerusakan komoditas pertanian akibat frost. Berkurangnya suhu juga dapat mengakibatkan kematian unggas. Oleh karena itu, Anung mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di dataran tinggi atau rentan terhadap suhu ekstrem untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan. Dengan demikian, diharapkan masyarakat bisa lebih siap menghadapi fenomena bediding ini.

Source link