Rabu, 19 November 2025 – 14:00 WIB
VIVA – Wacana pembatasan game (PUBG) kembali mencuat setelah insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta. Banyak pihak mempertanyakan apakah pembatasan game semata‑mata solusi, dan di tengah diskusi itu, seorang pakar psikologi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberi peringatan penting agar kebijakan diambil secara hati‑hari dan berdasarkan data kuat.
Baca Juga :
Pemain Temukan Glitch Langka di Roblox Grow a Garden, Benarkah Bisa Gandakan Hasil Panen?
Menyikapi Ledakan SMAN 72 dan Rencana Pembatasan PUBG
![]()
Baca Juga :
7 Kombinasi Hero Mobile Legends yang Paling Ditakuti di Ranked Mythical Glory, Dijamin Auto Menang!
Insiden ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, memicu polemik nasional soal pengaruh game perang seperti PUBG pada perilaku remaja. Pemerintah, melalui sejumlah pejabat, tengah mempertimbangkan langkah regulasi game berbasis senjata api demi mencegah potensi pengaruh negatif pada generasi muda.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto mendukung pembatasan.
Baca Juga :
Update Terbaru Korban Ledakan SMAN 72 yang Masih Dirawat: Sisa 6 Orang
“Pengaruh-pengaruh dari game online” seperti PUBG, karena khawatir konten kekerasan dalam game bisa menormalisasi perilaku agresif di benak remaja,” kata Prasetyo Hadi.
Suara Pakar: Jangan Ambil Kebijakan Secara Reaktif
Menurut Prof. Dr. Suciati dari Psikologi Pendidikan Islam UMY, reaksi langsung untuk membatasi PUBG sebagai jawaban atas insiden di SMAN 72 bisa tergesa‑gesa dan belum tentu tepat.
Dia menyoroti beberapa pertanyaan krusial: apakah benar ledakan tersebut berkaitan langsung dengan game? Apakah cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa kecanduan PUBG adalah penyebab?
“Menurut saya, itu memang bagian dari upaya meredam bentuk agresivitas. Tetapi yang perlu ditanyakan adalah, apakah benar tindakan itu terjadi akibat PUBG? Apa hubungannya bom dengan PUBG? Apakah pengakuan anak itu cukup untuk dijadikan dasar? Kalau pun benar ia kecanduan, tetap saja muncul pertanyaan lain: apakah penyebabnya sesederhana itu?” ujar Prof. Suciati, dikutip VIVA dari Kemendikbud Rabu, 19 November 2025.
Ia menekankan bahwa kasus merakit bahan peledak seharusnya diselidiki lebih dalam, termasuk faktor sosial, psikologis, dan lingkungan, bukan hanya langsung dikaitkan dengan game.
Di sisi lain, Prof. Suci menegaskan bahwa game seperti PUBG tidak selamanya berdampak negatif. Banyak aspek positif yang sering terabaikan ketika masyarakat terlalu fokus pada dampak buruk game.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa permainan digital dapat meningkatkan konsentrasi, kemampuan visual-spasial, koordinasi mata–tangan, serta membantu meredakan stres.
Halaman Selanjutnya
Source : PUBG Mobile












